Keanekaragaman Hayati Tebet Eco Park, yang awalnya dikenal sebagai Taman Tebet Barat, telah mengalami transformasi luar biasa dari sekadar ruang hijau biasa menjadi suaka urban yang memukau bagi keanekaragaman hayati. Revitalisasi yang berfokus pada ekologi ini tidak hanya mempercantik pemandangan, tetapi terutama menciptakan ekosistem yang berfungsi utuh, menarik berbagai spesies fauna untuk tinggal dan mencari makan. Hasil dari pendekatan ramah alam ini kini mulai terlihat jelas, dengan teridentifikasinya setidaknya 20 jenis burung dan reptil yang menjadikan taman ini sebagai habitatnya.
Kehadiran 20 spesies burung dan reptil ini adalah indikator kesehatan lingkungan yang sangat positif bagi sebuah taman di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Setiap spesies yang berhasil bertahan dan berkembang biak di sini merupakan tanda bahwa kualitas air, udara, dan rantai makanan di dalam taman terjaga dengan baik. Tebet Eco Park dengan demikian berfungsi sebagai paru-paru hijau dan juga “ark” atau tempat perlindungan bagi satwa kota, menyediakan oasis yang aman dari tekanan urbanisasi.
Kelompok burung menjadi penghuni yang paling mudah diamati dan terdengar di taman ini. Dari 20 jenis yang teridentifikasi, sebagian besar adalah burung-burung khas daerah basah dan semak urban. Suara kicauan mereka menciptakan simfoni alam yang menenangkan, mengiringi langkah setiap pengunjung yang menyusuri jalan setapak. Keberadaan mereka bukan hanya untuk dinikmati keindahannya, tetapi juga memainkan peran ekologis vital sebagai pengendali hama alami dan penyebar biji.
Di antara burung-burung yang berhasil diidentifikasi, terdapat spesies yang akrab seperti Kutilang dengan jambul khasnya dan kicauan merdu, serta Punai Gading yang sering terlihat berpasangan atau dalam kelompok kecil. Burung Cinenen atau Perenjak Jawa yang mungil dengan suaranya yang nyaring juga mudah ditemui di semak-semak, sementara Bondol Peking dan Bondol Haji sibuk memanen biji-bijian dari rerumputan yang sengaja ditanam.
Tidak kalah menarik adalah kehadiran burung air seperti Kowak Malam Abu yang bersembunyi di vegetasi tepian danau, menunggu mangsa di waktu senja. Cangak Abu dengan postur tinggi tegak juga sesekali terpantau berpatroli di air yang jernih. Kemunculan burung Raja Udang yang berwarna mencolok menjadi pemandangan istimewa, membuktikan bahwa perairan di taman ini cukup sehat untuk mendukung populasi ikan kecil sebagai makanannya.
Selain burung pemakan ikan, burung pemakan serangga seperti Cabai Jawa yang berwarna merah terang dan Kipasan Belang dengan ekor yang selalu dikibaskannya turut menghuni taman ini. Setiap spesies burung ini menempati ceruk atau niche ekologisnya masing-masing, sehingga tidak saling bersaing secara langsung. Keberagaman jenis burung ini menunjukkan kompleksitas ekosistem yang terbentuk, mulai dari zona perairan, semak rendah, hingga kanopi pohon.

Baca Juga : PIMSF Pemegang Saham, RUPSLB GPSO Tetapkan Direksi dan Komisaris Baru
Sisi lain keanekaragaman hayati Tebet Eco Park diwakili oleh kelompok reptil, yang meski sering kurang teramati, memainkan peran kunci dalam keseimbangan alam. Reptil-reptil ini adalah predator alami bagi banyak serangga, tikus kecil, dan hewan pengganggu lainnya. Keberadaan mereka, terutama ular, sering kali menjadi tolok ukur akhir dari kesehatan suatu ekosistem, karena mereka berada di puncak rantai makanan untuk kelompok tertentu.
Ular Sanca Kembang (Python reticulatus), meski berukuran besar, merupakan salah satu penghuni penting yang tercatat. Kehadiran predator puncak seperti ini menunjukkan bahwa populasi mangsa, seperti tikus dan mamalia kecil, melimpah di area taman. Selain itu, ular yang lebih kecil dan tidak berbisa seperti Ular Air (Acrochordus javanicus) juga hidup di perairan taman, membantu mengontrol populasi ikan dan kodok.
Reptil lain yang berhasil teridentifikasi adalah Biawak Air (Varanus salvator). Meski penampilannya mengesankan, biawak adalah pemulung alam yang sangat efisien, membersihkan sisa-sisa organik dan bangkai hewan. Kemampuannya berenang dan memanjat membuatnya menjadi penghuni yang sukses di berbagai zona taman. Pengunjung yang beruntung mungkin dapat melihatnya berjemur di tepian danau atau bergerak lincah di antara vegetasi.
Tidak hanya biawak dan ular, keluarga kadal juga turut meramaikan. Cecak dan Tokek adalah pemandangan umum yang membantu mengontrol populasi nyamuk dan serangga kecil di malam hari. Sementara itu, kadal seperti Cecak Terbang atau Kadal Kebun sering terlihat berlarian di batang pohon atau di antara bebatuan, menjadi mangsa potensial bagi burung pemangsa dan ular, sehingga menyempurnakan siklus rantai makanan.
Keanekaragaman yang mencapai 20 jenis ini bukanlah suatu kebetulan, melainkan hasil dari desain taman yang intentional atau disengaja. Pembentukan habitat yang beragam, seperti danau dengan pulau burung, rawa buatan, padang rumput berbunga, dan hutan mini, menyediakan sumber pakan, tempat berlindung, dan lokasi bersarang yang berbeda-beda bagi setiap spesies. Tumbuhan yang dipilih pun banyak yang merupakan spesies asli yang buah atau bunganya disukai satwa.
Selain desain fisik, manajemen taman yang mengutamakan prinsip ekologi juga menjadi kunci. Pengurangan penggunaan pestisida kimia, pengelolaan air yang bersirkulasi alami, dan pembatasan gangguan pada zona-zona tertentu memungkinkan satwa liar merasa aman. Edukasi kepada pengunjung untuk tidak memberi makan satwa secara sembarangan juga membantu menjaga perilaku alami dan kesehatan fauna di taman.
Identifikasi ini sendiri biasanya dilakukan melalui metode seperti pengamatan langsung (bird watching), pemasangan kamera jebak (camera trap), dan pencatatan oleh komunitas maupun ahli. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk memantau tren populasi. Penemuan 20 jenis ini mungkin saja masih akan bertambah seiring waktu, seiring dengan semakin matangnya ekosistem taman dan intensifnya pemantauan.
Keberhasilan Tebet Eco Park menjadi rumah bagi 20 jenis burung dan reptil membawa manfaat besar bagi warga kota. Selain nilai ekologis, kehadiran satwa liar ini menawarkan pengalaman rekreasi dan edukasi yang unik dan langsung. Anak-anak dapat belajar mengenal keanekaragaman hayati tanpa harus pergi jauh, sementara warga kota mendapat kesempatan untuk terhubung kembali dengan alam, mengurangi stres, dan meningkatkan kualitas hidup.
Pada akhirnya, Tebet Eco Park membuktikan bahwa pembangunan ruang publik modern yang berkelanjutan sangat mungkin diwujudkan. Taman ini menjadi teladan sukses bagaimana intervensi desain ekologis dapat memulihkan dan mengundang kehidupan liar kembali ke jantung kota. Daftar 20 spesies burung dan reptil yang teridentifikasi hari ini adalah cerita awal; ia adalah janji akan masa depan di mana kota dan alam tidak lagi bertentangan, tetapi tumbuh dan berkembang bersama secara harmonis